Showing posts with label drug. Show all posts
Showing posts with label drug. Show all posts

Thursday, February 21, 2008

Penemuan Vaksin HIV Masih Jauh

LONDON -- Setelah lebih dari duapuluh tahun meneliti, para ilmuwan ternyata tidak semakin dekat untuk menemukan vaksin HIV. ''Ini tantangan besar, sebab untuk mengendalikan HIV dengan imunologi. Komunitas ilmiah harus mengalahkan alam, menghadapi alam, dengan keunggulan empat miliar tahun evolusi. Hal itu ternyata belum bisa dilakukan,'' ujar pakar biologi peraih Hadiah Nobel, Profesor David Baltimore, seperti dilansir BBC.

Baltimore yang juga Presiden Perhimpunan Amerika untuk Kemajuan Sains (AAAS) mengaku kekurangberhasilan tersebut mungkin bisa dipahami. ''Tapi, tidak bisa diterima,'' jelasnya . Saat berbicara dalam pertemuan tahunan AAAS di Boston, Baltimore, ia mengatakan bahwa HIV telah mengembangkan cara untuk melindungi diri dari sistem kekebalan manusia. ''Jadi, kita harus bertindak selangkah lebih jauh daripada alam,'' kilahnya.

Dia mengungkapkan, upaya untuk mengendalikan virus melalui antibodi atau dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia berakhir tanpa hasil. Baltimore juga mengaku kecewa dengan kalangan ilmuwan pengembang vaksin. eye

http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=324241&kat_id=359

Wednesday, February 6, 2008

Medicine From Milk: Gene Therapy Transforms Goats Into Pharmaceutical Factories


ScienceDaily (Feb. 1, 2008) — University of Pennsylvania researchers have used gene therapy to reduce the time it takes to breed large animals capable of producing therapeutic proteins in their milk, such as insulin or those that fight cancer. This represents a significant milestone in drug development, as current methods involve cloning, which takes more time and generally costs more.

"Having an easier way to harness nature's power to produce large quantities of specific proteins in milk could increase the availability of drugs for people who could otherwise not afford these treatments," said Ina Dobrinski, one of the researchers on the study.

The study also is significant because it may also be a new way to eliminate diseases in future generations of animals, such as those used for livestock. Here's why: To get the goats to produce specific proteins, the researchers used radiation to kill a portion of a male goat's germ cells (the cells that produce sperm). Then they used a modified adeno-associated virus (a well studied and tolerated gene therapy vector) to insert a gene in the remaining cells. Once the new gene took hold in the germ cells, a predictable number of female offspring produced the desired protein in their milk.

The advance is immediately valuable for pharmaceutical development and biology research, but a similar approach could be used to bolster the food supply by eliminating genetic disorders in animals over several generations. It is also possible that once perfected, this technique could eliminate disease genes in humans over several generations, assuming ethical concerns can be resolved adequately.

This study is published in the February 2008 print edition of The FASEB Journal.

"For thousands of years, people have domesticated cows and goats to make milk, butter and cheese. And for thousands of years dairy products have been used as folk remedies for practically every human illness. Most have been completely ineffective." said Gerald Weissmann, MD, editor-in-chief of The FASEB Journal. "So it is reassuring that modern science would find a way to use the milk we drink to yield of drugs that actually work."

Adapted from materials provided by Federation of American Societies for Experimental Biology, via EurekAlert!, a service of AAAS.

Friday, February 1, 2008

Proyek 1000 Genom

Amerika, Inggris dan Cina kini bekerja sama dalam Proyek 1000 Genom. Proyek ini bertujuan untuk memetakan genom manusia terbaru dengan data variasi DNA biomedis paling lengkap dan lebih detail menurut Richard Durbin dari Sanger Institute. Proyek ini melibatkan institusi Wellcome Trust Sanger Institute dari Inggris, National Human Genome Research Institute (NHGRI) dari Amerika, dan Beijing Genomics Institute-Shenzhen, Cina.

Proyek 1000 genom ini mungkin untuk dilakukan saat ini karena teknologi pengurutan genetika, bioinformatika dan teknik lainnya makin mengalami kemajuan. Dengan proyek ini upaya untuk menemukan faktor genetika yang terlibat dalam penyakit dan kesehatan manusia daapt dilakukan dengan lebih efektif lagi.

Perbedaan yang ada pada individu merupakan pengaruh dari satu persen DNA, sehingga dengan riset dalam 1000 genom ini, informasi mengenai DNA akan lebih mendetail. Perbedaan satu persen pada DNA sering kali bertanggung jawab atas perbedaan dalam kerentanan terhadap penyakit dan reaksi pengobatan. Ilmuwan telah mendaftarkan puluhan wilayah variasi genom manusia yang spesifik (haplotipe) dan mengasosiasikannya dengan penyakit umum, seperti penyakit jantung koroner, kanker payudara, arthritics, dan penyakit akibat penuaan.

Peta DNA yang berhasil disusun tahun 2000 lalu masih belum terlalu detail, oleh karena itu ilmuwan ingin mengembangkannya lagi agar peta DNA yang ada saat ini menjadi lebih detail dan gambaran genom akan menjadi lebih jelas dalam menemukan faktor genetika suatu penyakit.

Proyek ini akan memetakan DNA dari beragam kelompok etnis yang spesifik, termasuk Yoruba di Ibadan, Nigeria; Chinese di Denver, Colorado; Chinese di Beijing; Toscani di Italia, India Gujarati di Houston, Texas; orang Meksiko di Los Angeles; serta warga keturunan Afrika di barat daya Amerika Serikat.

Dengan memanfaatkan teknologi sequencing dan metode komputasional terbaru, diharapkan dapat memberikan peta genom lengkap bagi ilmuwan biomedis, yang akan memaparkan segala bentuk variasi sampai tingkat satu persen dan ini akan mengubah cara ilmuwan untuk mempelajari penyakit genetis kata Francis Collins, wakil NHGRI.

Tempo Interaktif

Tuesday, January 29, 2008

Pil KB Cegah Kanker Indung Telur

Beijing (ANTARA News) - Pil KB dapat berbuat lebih dari sekedar mencegah kehamilan, pil tersebut juga dapat melindungi perempuan dari kanker indung telur selama lebih dari 30 tahun atau lebih setelah mereka mengkonsumsinya, demikian hasil penelitian di Inggris yang disiarkan pekan ini.

Makin lama perempuan mengkonsumsi pil itu, makin rendah resiko mereka terserang penyakit itu, yang lebih umum menyerang setelah perempuan berusia 50 tahun, tulis para peneliti tersebut di jurnal "Lancet".

Perempuan yang mengkonsumsi pil itu selama 15 tahun mengurangi resiko mereka terserang penyakit tersebut separuhnya, kata para peneliti itu.

Di seluruh dunia, pil tersebut sudah membantu 200.000 perempuan dari serangan kanker indung telur dan telah mencegah 100.000 kematian akibat penyakit itu, kata Valerie Beral dari University of Oxford dan rekannya dalam laporan mereka.

"Ketika anda berusia 60 tahun, ada manfaatnya jika anda mengkonsumsinya lima tahun atau 10 tahun saat anda berusia 20-an tahun," kata Beral dalam suatu wawancara telefon. "Makin lama anda mengkonsumsinya, makin baik bagi anda tatkala resiko kanker indung telur tinggi."

Sebanyak 300 juta perempuan telah menggunakan pil KB sejak pil itu diperkenalkan pada awal 1060-an. Ratusan kajian telah meneliti keamanannya, sebagian menunjukkan manfaat dan yang lain memperlihatkan peningkatan resiko kanker payudara dan kanker leher rahim.

Beral dan rekannya mengatakan penelitian mereka, yang menganalisis 45 kajian kanker indung telur di 21 negara, memperlihatkan bahwa manfaat pil tersebut lebih besar dari resikonya. Kanker

Kanker indung telur sangat mematikan karena perempuan seringkali mengalami gejala ringan atau tak menghadapi gejala sama sekali hingga penyakit itu telah berkembang.

Resiko kanker payudara, yang juga mengakibatkan stroke dan pembekuan darah, jauh lebih kecil dan hanya ada saat perempuan mengkonsumsi pil tersebut dan tak lama setelah mereka berhenti, kata Beral seperti dikutip Xinhuanet.

Mengkonsumsi pil itu selama 10 tahun mengurangi resiko kanker indung telur sebelum usia 75 tahun dari 12 per 1.000 perempuan jadi 8 per 1.000. Pil tersebut juga mengurangi resiko kematian akibat penyakit itu dari 7 per 1.000 perempuan jadi 5 per 1.000 sebelum usia 75 tahun, demikian temuan studi tersebut.

Lebih dari 100 juta perempuan sekarang mengkonsumsi pil tersebut, jadi akhirnya itu akan mencegah lebih dari 30.000 kasus kanker indung telur setiap tahun selama beberapa dasawarsa ke depan, tulis para peneliti tersebut. (*)

Copyright © 2008 ANTARA

Pengobatan Kanker Juga Bantu Obati Osteoporosis

Washington (ANTARA News) - Obat yang digunakan untuk mengobati kanker tulang sumsum juga dapat membantu mengobati osteoporosis dengan merangsang sel-sel tungkai, kata beberapa peneliti AS, Jumat.

Mereka mendapati bahwa Velcade, yang dibuat oleh Millenium Pharmaceuticals Inc (MLNM.O) untuk mengobati tumor ganda di sumsum tulang, mengaktifkan sel-sel tungkai yang berubah menjadi tulang.

Ujicoba terhadap tikus memperlihatkan membantu mengaktifkan jaringan tulang dan mungkin merupakan pengobatan yang berpotensi bagi osteoporosis, kata satu tim di Massachusetts General Hospital dan Harvard Stem Cell Institute di "Journal of Clinical Investigation".

Ahli sel tungkai di Harvard Dr. David Scadden mengatakan, para ilmuwan telah berharap menemukan cara untuk menggunakan obat guna merangsang sel-sel tungkai, yang merupakan sel pengendali tubuh.

"Terapi sel tungkai seringkali dikira sebagai tindakan memasukkan sel baru ke dalam tubuh, tapi studi ini menunjukkan bahwa pengobatan dapat mengubah sel-sel tungkai yang ada yang terdapat di jaringan tubuh dan bertindak sebagai obat pengaktifan untuk meningkatkan mekanisme perbaikan sendiri tubuh," kata Scadden dalam suatu pernyataan.

"Obat yang mengarahkan sel-sel tak matang untuk menjadi sejenis sel khusus, seperti dalam studi ini, dapat berpotensi sangat bermanfaat," katanya seperti dikutip Reuters.

Velcade, yang secara generika dikenal sebagai "bortezamib", merangsang sel-sel tungkai "mesenchymal", demikian temuan para peneliti tersebut. Sel-sel itu berkembang menjadi zat pembangun-tulang "osteoblast" dan beberapa jenis sel lain termasuk "cartilage", lemak, kulit dan otot.

Ujicoba pada tikus memperlihatkan obat tersebut meningkatkan kegiatan "osteoblast", dan ketika digunakan pada tikus yang menderita osteoporosis, obat itu secara mencolok meningkatkan kepadatan dan susunan tulang.

"Jika paradigma yang terlihat dalam studi ini terbukti benar bagi jaringan lain, kita mungkin memiliki pilihan untuk memperbaiki dan mengaktifkan kembali berbagai tempat yang terpengaruh oleh cedera atau penyakit dengan menggunakan obat --itu akan sangat menggairahkan," kata Scadden. (*)

Copyright © 2008 ANTARA

Friday, January 25, 2008

Mixing Up the Immune System

By Anna Davison

By performing bone-marrow transplants along with kidney transplants, doctors in Boston were better able to trick recipients' immune systems into accepting the new organs as if they were their own.

Even though the patients received donor kidneys that weren't a good match, most of them were successfully weaned off of immune-suppressing drugs about a year after their transplants. Normally, patients have to take the drugs, which can have serious side effects, for the rest of their lives.

"It's groundbreaking work," says John C. Magee, director of the Kidney Transplant Program at the University of Michigan, who was not involved in the study. "They've shown that you can reeducate the immune system."

The technique could be applied to other kinds of transplants and used in the treatment of autoimmune diseases, says Megan Sykes, one of many researchers who carried out the work at Massachusetts General Hospital. Sykes is the associate director of the hospital's Transplantation Biology Research Center.

The team has been working for about 20 years to outsmart the immune system by inducing tolerance to a donor organ. In this study, reported in this week's issue of the New England Journal of Medicine, the scientists transplanted bone marrow along with a mismatched kidney, giving patients a kind of hybrid immune system that blended elements of both the donor and the recipient.

Four out of five patients who received bone-marrow transplants in conjunction with kidney transplants didn't need long-term treatment with immune-suppressing drugs. The technique was not successful for the fifth patient, however: his body rejected the donor kidney. He was given a second--and successful--transplant according to conventional protocol.

Doctors try to match people with similar versions of the genes that play a crucial role in immune reactions to foreign tissue. This genetic region is known as the human leucocyte antigen (HLA) complex. But finding a good match isn't always possible, so doctors often use a mismatched kidney and put the patient on immunosuppressive drugs to reduce the risk of rejection. The patients in the study, whose ages ranged from 22 to 46, were all suffering from advanced kidney disease and were unable to find living donors who were a very good tissue match. They received kidneys from family members who were HLA mismatched.

Before the surgery, the transplant team gave the patients drugs to deplete their bone marrow and suppress their immune response. After receiving new kidneys and then an intravenous infusion of bone marrow from their donors, the patients were kept in a relatively sterile environment to reduce their chance of infection, and to allow the bone marrow to regenerate and produce new immune cells that wouldn't attack the donor kidney.

In the months after their transplants, the patients in the study were treated with immunosuppressive drugs, but four out of five of them were able to discontinue those drugs between 9 and 14 months after surgery, and their new kidneys have been functioning well in the years since.

"I think it's quite exciting," Magee says. "It shows what's possible."

The researchers' approach could make transplants more feasible for people whose immune systems are already compromised by conditions like HIV, according to Yasir Qazi, medical director of the kidney and pancreas transplant program at the University of Southern California. (Qazi was not involved in the work.) Sykes says that the approach could potentially be used to treat autoimmune diseases such as type 1 diabetes. "It could have huge benefits," she says.

Although immunosuppressive drugs have revolutionized transplant medicine, they can increase the risk of cancer and heart disease. "Immunosuppression is great, because it makes kidneys work, but it's bad because it has lots of side effects," Magee says. "Some people say that in many ways, you're trading one disease for another. You still have to take lots of medicine and see a doctor."

The protocol developed by Sykes and her colleagues initially requires heavier drug treatment than that required with the standard kidney-transplant procedure, to allow the recipient's body to accept donated bone marrow as well as a donated kidney. But, she points out, the patient is only on the drugs for a limited time.

From here

Recent Comments

My Widget

Visitor Map
Create your own visitor map!
My Blog Juice

Bio News

↑ Grab this Headline Animator

Adv

Label