Showing posts with label plant. Show all posts
Showing posts with label plant. Show all posts

Monday, February 4, 2008

Transgenik Yes, But . . .

Jakarta-RoL--"Prinsipnya bagi kami tidak masalah, bahkan kami dukung upaya itu," kata Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Rachmat Pambudy pada diskusi pakar bertema "Keunggulan Bioteknologi dan Solusi Menuju Kemandirian Pangan" di Jakarta, Selasa.

pernyataan diatas disampaikan sebagai dukungan petani yang tidak akan menghambat upaya peningkatan produktivitas pertanian melalui rekayasa genetik (transgenik) selama produk tersebut aman pangan, aman lingkungan dan menguntungkan bagi para petani, selain itu,produk transgenik itu harus hasil riset dan teknologi dari dalam negeri oleh ahli Indonesia sendiri, ditanam oleh para petani dalam negeri, dan demi kepentingan bangsa dan ketahanan pangan nasional.

"Jadi produk transgenik itu jangan sampai dikembangkan perusahaan multinasional yang datang ke Indonesia, menanam di tanah kita, lalu terjadi persaingan hasil pertanian mereka dengan petani kita, lalu mereka yang memenangkan pasar dan kita menjadi tergantung. Ini tidak benar," katanya.

Hasil riset rekayasa genetika itu yakni kedelai TH (toleran herbisida), kapas Bt (toleran serangga pengerek batang), kapas TH, jagung TH dan jagung Bt oleh sejumlah perusahaan dan sudah dinyatakan aman sehingga mereka tinggal mengurus sejumlah izin lain.Sedangkan riset tanaman rekayasa genetik di Indonesia, menurut Kapuslit Biotek LIPI Dr Bambang Prasetya, sebenarnya sudah dilakukan, tetapi masih dalam taraf riset, belum dilepas dan belum siap untuk ditanam secara komersial.

Pihaknya, lanjut dia, masih ragu-ragu untuk secara intensif melakukan riset rekayasa genetika apa lagi sampai melepas hasil-hasil riset tersebut karena selain masih kontroversi juga belum didukung peraturan yang lengkap.

Rekayasa genetika mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian dengan mengurangi banyak komponen biaya produksi seperti pestisida, penggunaan air, ketahanan terhadap lahan kering dan asam dan lain-lain yang bisa menguntungkan petani. antara/mim

from here

Monday, January 21, 2008

Virus TUMV Sudah Menyebar di Indonesia

Jakarta (ANTARA News) - Penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan bahwa virus Turnip Mosaic (TUMV) yang menyerang tananam sawi dan oleh Departemen Pertanian dinyatakan belum ada di Indonesia, ternyata sudah menyebar di sejumlah wilayah di dalam negeri.

Pakar virus tanaman dari Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, Sri Hendrastuti Hidayat PhD, pada Senin mengatakan, berdasarkan Kepmentan No.38 tahun 2006, TUMV digolongkan dalam organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) golongan A1 yang berarti belum pernah dilaporkan keberadaannya di Indonesia.

"Namun dari hasil survey yang kami lakukan, inveksi virus Turnip Mosaic terjadi di beberapa daerah pertanian sayuran di Indonesia," katanya.

Virus tersebut ditemukan pada tanaman ciaisim dan pakchoi, sejenis tanaman sawi di beberapa wilayah seperti di Lampung, Bengkulu, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Poso dan Donggala dengan persentase infeksi hingga 83 persen.

Sebelumnya, virus yang mengakibatkan kerusakan daun dan mengganggu pertumbuhan tanaman tersebut juga ditemukan telah menyebar di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali pada sekitar 2004.

Oleh karena itu, tambahnya, Departemen Pertanian seharusnya melakukan revisi terhadap Kepmentan no 38/2006 dan tidak lagi memasukkan TuMV dalam OPTK golongan A1 namun diturunkan menjadi A2 atau dikeluarkan dari daftar OPTK karena sudah ditemukan menyebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu Wakil Sekjen Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo), Afrizal Gindow menyatakan, kebijakan Deptan yang memasukkan virus Turnip Mosaic dalam golongan OPTK A1 berdampak pada terhentinya impor benih caisim, sejenis sawi, sejak 2006.

"Proses pemasukan benih golongan kubis-kubisan (Brasica) dari luar negeri untuk kebutuhan benih di Indonesia saat ini menemui kendala terkait status OPTK TUMV," katanya.

Selama ini untuk kebutuhan benih sawi jenis caisim di dalam negeri yang mencapai 100 ton per tahun masih mengandalkan impor karena komoditas tersebut tidak bisa diproduksi di Indonesia yang beriklim tropis.

Afrizal yang juga Direktur Penjualan dan Pemasaran PT East West Seed Indonesia itu mengatakan, terhentinya impor benih sawi tidak hanya merugikan produsen namun juga berdampak pada petani.

Jika setiap hektar pertanaman sawi caisim memerlukan benih sekitar 0,5 kilogram, lanjutnya, maka sedikitnya 200 ribu pembudidaya tanaman tersebut tidak bisa lagi mengembangkan usahanya kalau setiap petani mengusahakan 1 hektar.

"Dengan dikeluarkannya virus TUMV dari golongan OPTK A1 pemasukan benih sawi dari luar tidak lagi terkendala," katanya sembari menambahkan pasar benih sawi di Indonesia mencapai Rp30 miliar per tahun.

Menurut dia, impor benih golongan kubis-kubisan termasuk sawi caisim dari Jepang, China dan Selandia Baru yang merupakan negara produsen benih tanaman tersebut.

Namun semenjak ditemukan serangan TUMV setelah negara-negara tersebut dinyatakan tidak aman oleh Deptan maka impor hanya bisa dilakukan dari negara bagian Idaho Amerika Serikat.

Afrizal menyatakan, jika impor hanya dari AS tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri karena produksi di negara tersebut juga terbatas.(*)

Copyright © 2008 ANTARA

Recent Comments

My Widget

Visitor Map
Create your own visitor map!
My Blog Juice

Bio News

↑ Grab this Headline Animator

Adv

Label