Cibinong, Bogor (ANTARA News) - Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selama ini mengembangkan kedelai plus, benih yang telah diproses sehingga mampu melipatgandakan produktivitas dua kali dari rata-rata nasional 1,2 ton per hektare (ha) menjadi 2,6 ton hingga 3,6 ton per ha.
"Sudah terbukti ditanam di tempat yang sulit untuk kedelai seperti di Musirawas, Sumsel dan beberapa tempat lain di Jawa sejak 2004," kata Peneliti Puslit Bioteknologi LIPI, Harmastini Sukiman M.Agr, di Cibinong Science Center, Bogor, Kamis.
Meningkatnya produktivitas, ujarnya, karena benih telah mengandung mikroba rhizobium yang diinjeksi ke dalamnya dengan teknologi vakumisasi sehingga ketika ditanam, kandungan nitrogen di dalam tanahnya meningkat 20 persen dan menjadi subur bagi kedelai.
Karakter bakteri rhizobium, ujarnya, bersimbiose dengan tanaman kacang-kacangan dan dapat membantu penyerapan Nitrogen dari udara serta mengubahnya menjadi unsur yang tersedia bagi tanaman.
Cara kerjanya, benih kedelai dari varietas apapun diinsersi oleh bakteri rhizobium BTCC-B64 hasil riset LIPI dengan media pertumbuhan YEM-broth lalu dicampurkan oleh alat pencampur dengan teknologi vakum sehingga dihasilkan kedelai Plus.
Keuntungan Kedelai Plus, urainya, selain produksi biji yang meningkat, juga mudah ditanam oleh petani, dan kebutuhan pupuk berkurang hingga 60 persen.
Sementara itu, Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof Dr Endang Sukara, mengatakan bahwa sebenarnya pada masa Presiden Megawati, kedelai plus ini telah diperkenalkan, namun entah mengapa hasil riset ini hingga kini tidak dipakai secara massal.
"Ini masalah kebijakan, masalah tata niaga yang lebih mengutamakan impor dalam bentuk kedelai jadi, daripada mengembangkan pertanian kedelai," katanya.
Padahal, ia mengingatkan, kedelai yang diimpor itu adalah kedelai hasil rekayasa genetik sementara kedelai plus dalam negeri ini asli hayati. (*)
antara
Friday, January 18, 2008
Kedelai Plus LIPI Dapat Tingkatkan Produktivitas
Wednesday, January 16, 2008
Indonesia Kaya Mikroba Penghasil Antibiotik
Alam tropis
Demikian dikatakan Elin Yulinah Sukandar, peraih Habibie Award tahun 2007 dari Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) kepada Harian Terbit, Senin [14/1]. "Standardisasi bahan
Menurutnya, untuk memperoleh obat yang khasiatnya konsisten bahan obat perlu distandardisasi. Dalam pengembangannya, bahan obat harus melewati uji praklinik dan uji klinik. Bahan bakunya juga harus distandardisasi. Uji praklinik, katanya, dapat dilakukan secara in vitro melalui sistem reaksi enzimatik menggunakan kultur sel atau jaringan, uji terhadap mikroba/parasit pada medium perbenihan menggunakan organ terisolasi atau pada hewan percobaan secara in vivo.
Uji praklinik, tambah Elin, merupakan persyaratan yang harus dilakukan untuk menjamin khasiat dan keamanan suatu obat sebelum memasuki uji klinik. Jika obat bahan alam hanya melalui uji praklinik dan standardisasi bahan
Penelitian yang mengantarkan Elin mendapat Habibie Award tahun 2007 terfokus pada penelitian mikroba dan dari tumbuhan. Roadmap peneltian meliputi obat antiinfeksi dan antidegeneratif mengingat penyakit infeksi menduduki urutan pertama pada pola penyakit di
Beberapa penelitian yang dilakukan Elin yaitu penelitian antibiotik dimana mikroba dicari di tanah di beberapa wilayah Indonesia. Selanjutnya penelitian antituberkulosis jahe dan mengkudu. Sediaan fitofarmaka kapsul jahe dan kapsul mengkudu dapat mempercepat kesembuhan pasien tuberculosis dan relative aman, tetapi tidak dianjurkan untuk ibu hamil. Penelitian lainnya yaitu antibakteri dan antiinflamasi daun babadotan dan jahe, kemudian penelitian antidiabetes dan antihiperlipidemia kunyit dan bawang putih.
