Showing posts with label food. Show all posts
Showing posts with label food. Show all posts

Thursday, February 21, 2008

40 Persen Makanan Bayi Terkontaminasi Bakteri

BOGOR -- Para peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan 22,73 persen susu formula (dari 22 sampel) dan 40 persen makanan bayi (dari 15 sampel) telah terkontaminasi bakteri Enterobacter sakazakii. Materi yang dijadikan sampel adalah yang dipasarkan antara bulan April hingga Juni 2006.

Kontaminasi oleh E Sakazakii yang menghasilkan enterotoksin tahan panas dapat menyebabkan enteritis (peradangan saluran pencernaan), sepsis (infeksi peredaran darah), dan meningitis (infeksi pada lapisan urat saraf tulang belakang dan otak). Ini berdasarkan pengujian yang dilakukan pada bayi mencit (tikus percobaan).

Sri Estuningsih, jurubicara tim peneliti, Selasa (19/2) menyebutkan bahwa sampel makanan dan susu formula yang diteliti berasal dari produk lokal. Tim tersebut terdiri dari staf pengajar Fakultas Kedokteran Hewan IPB, yakni Hernomoadi Huminto, I Wayan T Wibawan, dan Rochman Naim.

Menurut Sri Estuningsih, penelitian itu dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama, isolasi dan identifikasi E sakazakii dalam 22 sampel susu formula dan 15 sampel makanan bayi. Pada tahap kedua, menguji 12 isolat E sakazakii dari hasil isolasi dan kemampuannya menghasilkan enteroksin (racun) melalui uji sitolisis (penghancuran sel).

Dari 12 isolat yang diujikan terdapat enam isolat yang menghasilkan enteroksin. Uji selanjutnya adalah menguji isolat tersebut pada kemampuan toksin setelah dipanaskan. ''Terdapat lima dari enam isolat tersebut yang masih memiliki kemampuan sitolisis setelah dipanaskan,'' katanya. Selanjutnya, ditentukan satu kandidat dari isolat tersebut dan menguji enterotoksin serta bakteri vegetatifnya pada bayi mencit berusia enam hari. Bayi mencit diinfeksi melalui rute oral (cekok mulut) menggunakan sonde lambung khusus dan steril.

Setelah tiga hari, kemudian dilakukan pengambilan sampel organ mencit tersebut. Hasil pengujian enteroksin murni dan enteroksin yang dipanaskan dan bakteri mengakibatkan enteritis, sepsis dan meningitis. Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan metode hispatologi menggunakan pewarnaan hematoksilin eosin.

Dari hasil pengamatan histopatologis yang diperoleh masih dibutuhkan penelitian senada yang lebih mendalam untuk mendukung hasil penelitian tersebut. Ia menyatakan, amat penting dipahami bahwa susu formula bayi bukanlah produk steril. Sehingga, dalam penggunaannya serta penyimpanannya perlu perhatian khusus untuk menghindari kejadian infeksi karena mengonsumsi produk tersebut.

Sri Estuningsih secara pribadi telah melihat langsung fasilitas salah satu perusahaan makanan dan susu formula dengan omzet terbesar di Indonesia. ''Sebagian besar fasilitas tersebut telah memenuhi standar operasional prosedur perusahaan susu formula bayi, dan saat ini masih terus dilakukan upaya untuk mencegah kontaminasi tersebut,'' katanya. n ant

( )
http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=324244&kat_id=13

Tuesday, February 12, 2008

Gangliosida Berperan Penting Dalam Perkembangan Otak Anak

Jakarta (ANTARA News) - Nutrisi gangliosida, yang secara alami terdapat dalam air susu ibu, susu formula, daging dan telur, memiliki peran penting dalam pertumbuhan, serta perkembangan otak anak.

Peneliti senior dari Palmerston North, Selandia Baru, Dr.Paul McJarrow, PhD di Jakarta, Senin, menjelaskan bahwa gangliosida dalam asam sialat dibutuhkan dalam pertumbuhan, perkembangan, migrasi dan pematangan sel syaraf otak, serta pembentukan synaps (hubungan antar sel syaraf--red).

Lemak kompleks kelompok asam sialat yang terdiri atas komponen gula itu, menurut McJarrow, juga membantu proses transmisi sinyal synaps, pembentukan struktur otak dan menyimpan informasi.

"Penelitian yang dilakukan pada manusia juga menunjukkan bahwa suplementasi gangliosida dapat meningkatkan kemampuan belajar dan mengingat pada anak," jelasnya.

Ia menjelaskan, peran penting gangliosida dalam pertumbuhan dan perkembangan otak anak juga terlihat dari banyaknya konsentrasi gangliosida pada area abu-abu otak atau pada otak besar dan cerebral cortex yang merupakan area penting dalam pembentukan memori.

Namun demikian, menurut dia, hingga kini belum diketahui periode kritis kebutuhan gangliosida dalam formasi neuron maupun synaps. "Secara spesifik belum diketahui periode kritisnya, kapan gangliosida benar-benar dibutuhkan," katanya.

Ia menyarankan para ibu yang sedang hamil memaksimalkan asupan nutrisinya dengan mengonsumsi bahan makanan yang mengandung gangliosida seperti susu, daging dan telur.

Suplementasi gangliosida susu, katanya, juga bisa diberikan kepada bayi setelah periode pemberian ASI eksklusif usai.

Lebih lanjut dijelaskan, meskipun penting namun gangliosida saja tidak cukup untuk menyokong pertumbuhan dan perkembangan otak, nutrisi mikro lain seperti protein, kolin, AA-DHA, seng, besi, tembaga, iodium, folat dan vitamin A juga punya peran yang sama penting.

"Itu semua tidak berdiri sendiri, semua dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan otak," kata dr.Soedjatmiko, SpA, MSi, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang.

Ketua Divisi Tumbuh Kembang Departemen Pediatri Sosial Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu juga menambahkan bahwa tanpa stimulasi memadai nutrisi saja tidak dapat mengoptimalkan pertumbuhan dan perkembangan otak anak.

"Seperti nutrisi, stimulasi juga sangat penting. Stimulasi bisa dilakukan dengan memberikan rangsang suara, rabaan, gerakan, coretan dan gambar pada saat bermain, menyusui, memandikan, jalan-jalan dan yang lainnya," demikian dr. Soedjatmiko. (*)

from here

Wednesday, February 6, 2008

Medicine From Milk: Gene Therapy Transforms Goats Into Pharmaceutical Factories


ScienceDaily (Feb. 1, 2008) — University of Pennsylvania researchers have used gene therapy to reduce the time it takes to breed large animals capable of producing therapeutic proteins in their milk, such as insulin or those that fight cancer. This represents a significant milestone in drug development, as current methods involve cloning, which takes more time and generally costs more.

"Having an easier way to harness nature's power to produce large quantities of specific proteins in milk could increase the availability of drugs for people who could otherwise not afford these treatments," said Ina Dobrinski, one of the researchers on the study.

The study also is significant because it may also be a new way to eliminate diseases in future generations of animals, such as those used for livestock. Here's why: To get the goats to produce specific proteins, the researchers used radiation to kill a portion of a male goat's germ cells (the cells that produce sperm). Then they used a modified adeno-associated virus (a well studied and tolerated gene therapy vector) to insert a gene in the remaining cells. Once the new gene took hold in the germ cells, a predictable number of female offspring produced the desired protein in their milk.

The advance is immediately valuable for pharmaceutical development and biology research, but a similar approach could be used to bolster the food supply by eliminating genetic disorders in animals over several generations. It is also possible that once perfected, this technique could eliminate disease genes in humans over several generations, assuming ethical concerns can be resolved adequately.

This study is published in the February 2008 print edition of The FASEB Journal.

"For thousands of years, people have domesticated cows and goats to make milk, butter and cheese. And for thousands of years dairy products have been used as folk remedies for practically every human illness. Most have been completely ineffective." said Gerald Weissmann, MD, editor-in-chief of The FASEB Journal. "So it is reassuring that modern science would find a way to use the milk we drink to yield of drugs that actually work."

Adapted from materials provided by Federation of American Societies for Experimental Biology, via EurekAlert!, a service of AAAS.

Monday, February 4, 2008

Transgenik Yes, But . . .

Jakarta-RoL--"Prinsipnya bagi kami tidak masalah, bahkan kami dukung upaya itu," kata Sekjen Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Rachmat Pambudy pada diskusi pakar bertema "Keunggulan Bioteknologi dan Solusi Menuju Kemandirian Pangan" di Jakarta, Selasa.

pernyataan diatas disampaikan sebagai dukungan petani yang tidak akan menghambat upaya peningkatan produktivitas pertanian melalui rekayasa genetik (transgenik) selama produk tersebut aman pangan, aman lingkungan dan menguntungkan bagi para petani, selain itu,produk transgenik itu harus hasil riset dan teknologi dari dalam negeri oleh ahli Indonesia sendiri, ditanam oleh para petani dalam negeri, dan demi kepentingan bangsa dan ketahanan pangan nasional.

"Jadi produk transgenik itu jangan sampai dikembangkan perusahaan multinasional yang datang ke Indonesia, menanam di tanah kita, lalu terjadi persaingan hasil pertanian mereka dengan petani kita, lalu mereka yang memenangkan pasar dan kita menjadi tergantung. Ini tidak benar," katanya.

Hasil riset rekayasa genetika itu yakni kedelai TH (toleran herbisida), kapas Bt (toleran serangga pengerek batang), kapas TH, jagung TH dan jagung Bt oleh sejumlah perusahaan dan sudah dinyatakan aman sehingga mereka tinggal mengurus sejumlah izin lain.Sedangkan riset tanaman rekayasa genetik di Indonesia, menurut Kapuslit Biotek LIPI Dr Bambang Prasetya, sebenarnya sudah dilakukan, tetapi masih dalam taraf riset, belum dilepas dan belum siap untuk ditanam secara komersial.

Pihaknya, lanjut dia, masih ragu-ragu untuk secara intensif melakukan riset rekayasa genetika apa lagi sampai melepas hasil-hasil riset tersebut karena selain masih kontroversi juga belum didukung peraturan yang lengkap.

Rekayasa genetika mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian dengan mengurangi banyak komponen biaya produksi seperti pestisida, penggunaan air, ketahanan terhadap lahan kering dan asam dan lain-lain yang bisa menguntungkan petani. antara/mim

from here

Friday, February 1, 2008

Ayam Lokal Tahan Banting

Rabu, 23 Januari 2008 | 14:21 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Ayam yang satu ini memang istimewa. Bulu, kaki, jengger, paruh, dan lidahnya berwarna hitam pekat. Bahkan daging dan darahnya pun hitam. Karena itu, ayam cemani dipercaya memiliki kekuatan mistis. Ternyata ayam dari Jawa Tengah ini juga punya kekuatan lain, yaitu tahan terhadap serangan virus flu burung.

Begitulah hasil penelitian Sri Sulandari dan M. Syamsul Arifin Zein, dua peneliti genetika zoologi di Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Mereka telah meneliti sampel darah dari 15 galur ayam lokal Indonesia dan ayam kampung yang selamat dari wabah flu burung di beberapa daerah.

Hasil analisis terhadap gen Mx terhadap populasi ayam Indonesia itu menunjukkan ayam cemani memiliki resistensi terhadap virus flu burung yang paling tinggi, 0,89 persen, dibanding galur ayam lainnya. Adapun ayam kapas memiliki resistensi terendah, hanya 0,35 persen.

Namun, bukan berarti semua ayam cemani resisten terhadap virus itu. Zein menekankan bahwa hasil penelitian ini tidak berlaku untuk semua populasi ayam cemani yang tidak ditelitinya. "Dalam penelitian ini, ayam cemani yang kami ambil darahnya berasal dari Kedu, Temanggung," kata Zein. "Riset menunjukkan 88 persen dari populasi cemani yang diteliti memiliki protein yang resisten virus flu burung. Kalau ada populasi ayam cemani lain yang bertentangan dengan penelitian ini, bisa saja. Kebetulan yang kita ambil di pusat Cemani, kondisinya bagus."

Ketahanan ayam cemani itu ternyata ditentukan oleh gen Mx. Para ilmuwan telah mengetahui fungsi gen itu sebagai penentu kemampuan ayam untuk resisten atau justru rentan terhadap serangan virus avian influenza. Gen ini ditemukan pada beberapa hewan vertebrata, seperti mamalia, unggas, dan ikan, bahkan beberapa avertebrata.

Mutasi pada gen yang berada dalam kromosom 1 dengan 14 exon itulah yang menentukan resistensi ayam terhadap flu burung. Mutasi alel A (genotipe AA) menjadi G (genotipe GG) pada nukleotida ke-1.892 pada exon ke-13 itu menyebabkan adanya perubahan asam amino dari serin (AGT) menjadi asparagin (AAT).

Perubahan alel A menjadi G ini membuat unggas rentan terhadap flu burung, karena membentuk protein yang seharusnya mampu melawan. Alel A resisten terhadap serangan virus avian influenza, alel G rentan terhadap serangan virus itu, sedangkan alel R (genotipe AG) bisa resisten tapi juga bisa rentan.

Sulandari mengatakan hasil analisis terhadap fenomena mutasi alel G/A terhadap populasi ayam lokal di Indonesia itu menunjukkan bahwa ketahanan ayam lokal Indonesia terhadap virus tersebut cukup tinggi. "Rata-rata frekuensi alel A di atas 50 persen itu bagus," katanya. "Kalau kurang dari itu rentan karena, dalam populasinya, umumnya (ayam) memiliki alel GG, sedangkan alel AA tahan banting."

Selain cemani, ayam merawang dari Kepulauan Bangka Belitung yang diteliti dalam riset sejak 2007 itu menunjukkan frekuensi alel A yang tinggi. Begitu pula ayam pelung yang mereka teliti dari daerah Ciamis.

Sri Sulandari menyatakan penelitian gen Mx dari 877 sampel ini juga menghasilkan temuan penting, yaitu ayam yang selamat dari wabah avian influenza di Banten, Lampung, dan Sumatera Utara memiliki daya resisten cukup tinggi. "Frekuensi alel A ayam kampung di daerah itu cukup tinggi, antara 0,60 dan 0,73," katanya.

Ayam hutan merah, yang merupakan nenek moyang dari ayam domestikasi, mempunyai frekuensi alel A 0,49 persen. Angka yang diperlihatkan ini masih dalam kisaran frekuensi alel A yang dimiliki ayam lokal Indonesia. "Selain ayam hutan hijau (Gallus varius), secara keseluruhan ayam-ayam yang digunakan dalam penelitian ini, ayam kampung dan ayam hutan merah, mempunyai frekuensi alel resisten cukup tinggi," ujarnya.

Faktor daya tahan terhadap serangan flu burung ini, kata Zein, bisa dimanfaatkan dalam program pemuliaan. Secara alamiah, ayam dengan alel genotipe AA mampu melakukan perlawanan terhadap serangan flu burung. "Ayam dengan alel A akan memiliki keturunan dengan alel A pula, maka data ini penting sekali untuk keperluan breeding," ujarnya. "Kami tidak terlalu concern dengan ayam cemani resisten atau tidak, tapi sistem ini bisa digunakan untuk breeding."

Zein menyatakan bahwa dengan sistem ini dia bisa menciptakan populasi ayam yang 100 persen tahan serangan virus mematikan itu. Bila ada orang yang ingin membuat peternakan ayam kampung, bisa bekerja sama dengan laboratorium dengan menyeleksi induk sehingga menghasilkan keturunan yang tahan virus. "Yang tahan dikembangkan, yang jelek dibuang," katanya.

Cara membuat keturunan tahan virus flu burung sebenarnya sederhana, dengan memeriksa gen Mx ayam yang hendak dikembangbiakkan. "Misalnya kita ambil ayam jantan dan betina beralel AA," ujarnya. "Kalau beralel AA bertemu dengan AA, anaknya pasti AA. Kalau AG dengan AG, kadang alel bergenotipe GG keluar."

Selain menciptakan generasi ayam tahan flu burung, penelitian ini bisa digunakan bagi pengambil kebijakan dalam mengatasi wabah flu burung. "Setelah serangan (flu burung), kita maunya menjelaskan kepada pemerintah bahwa yang hidup itu adalah yang tahan, tapi akhirnya dibunuh," kata Zein. "Jadi yang nggak resisten mati karena penyakit, tapi yang resisten mati dibunuh."

Langkah membumihanguskan peternakan yang terkena wabah itu, kata Zein, kurang tepat. Jika kebijakan depopulasi--membunuh semua unggas yang hidup berbagi tempat dengan unggas mati--itu diteruskan, genetic resource Indonesia terancam bahaya. "Kalau ayam yang tahan virus dibunuh, sumber daya genetik kita habis, akhirnya kita punya ayam berkualitas lembek," ujarnya. "Sehingga bisa terjadi seperti kasus kedelai, bergantung pada Amerika terus. Kita tidak menanam, impor mahal."

TJANDRA DEWI

from here

Monday, January 21, 2008

Virus TUMV Sudah Menyebar di Indonesia

Jakarta (ANTARA News) - Penelitian Institut Pertanian Bogor (IPB) menemukan bahwa virus Turnip Mosaic (TUMV) yang menyerang tananam sawi dan oleh Departemen Pertanian dinyatakan belum ada di Indonesia, ternyata sudah menyebar di sejumlah wilayah di dalam negeri.

Pakar virus tanaman dari Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian IPB, Sri Hendrastuti Hidayat PhD, pada Senin mengatakan, berdasarkan Kepmentan No.38 tahun 2006, TUMV digolongkan dalam organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) golongan A1 yang berarti belum pernah dilaporkan keberadaannya di Indonesia.

"Namun dari hasil survey yang kami lakukan, inveksi virus Turnip Mosaic terjadi di beberapa daerah pertanian sayuran di Indonesia," katanya.

Virus tersebut ditemukan pada tanaman ciaisim dan pakchoi, sejenis tanaman sawi di beberapa wilayah seperti di Lampung, Bengkulu, Pontianak, Balikpapan, Samarinda, Poso dan Donggala dengan persentase infeksi hingga 83 persen.

Sebelumnya, virus yang mengakibatkan kerusakan daun dan mengganggu pertumbuhan tanaman tersebut juga ditemukan telah menyebar di wilayah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali pada sekitar 2004.

Oleh karena itu, tambahnya, Departemen Pertanian seharusnya melakukan revisi terhadap Kepmentan no 38/2006 dan tidak lagi memasukkan TuMV dalam OPTK golongan A1 namun diturunkan menjadi A2 atau dikeluarkan dari daftar OPTK karena sudah ditemukan menyebar di hampir seluruh wilayah Indonesia.

Sementara itu Wakil Sekjen Asosiasi Perbenihan Indonesia (Asbenindo), Afrizal Gindow menyatakan, kebijakan Deptan yang memasukkan virus Turnip Mosaic dalam golongan OPTK A1 berdampak pada terhentinya impor benih caisim, sejenis sawi, sejak 2006.

"Proses pemasukan benih golongan kubis-kubisan (Brasica) dari luar negeri untuk kebutuhan benih di Indonesia saat ini menemui kendala terkait status OPTK TUMV," katanya.

Selama ini untuk kebutuhan benih sawi jenis caisim di dalam negeri yang mencapai 100 ton per tahun masih mengandalkan impor karena komoditas tersebut tidak bisa diproduksi di Indonesia yang beriklim tropis.

Afrizal yang juga Direktur Penjualan dan Pemasaran PT East West Seed Indonesia itu mengatakan, terhentinya impor benih sawi tidak hanya merugikan produsen namun juga berdampak pada petani.

Jika setiap hektar pertanaman sawi caisim memerlukan benih sekitar 0,5 kilogram, lanjutnya, maka sedikitnya 200 ribu pembudidaya tanaman tersebut tidak bisa lagi mengembangkan usahanya kalau setiap petani mengusahakan 1 hektar.

"Dengan dikeluarkannya virus TUMV dari golongan OPTK A1 pemasukan benih sawi dari luar tidak lagi terkendala," katanya sembari menambahkan pasar benih sawi di Indonesia mencapai Rp30 miliar per tahun.

Menurut dia, impor benih golongan kubis-kubisan termasuk sawi caisim dari Jepang, China dan Selandia Baru yang merupakan negara produsen benih tanaman tersebut.

Namun semenjak ditemukan serangan TUMV setelah negara-negara tersebut dinyatakan tidak aman oleh Deptan maka impor hanya bisa dilakukan dari negara bagian Idaho Amerika Serikat.

Afrizal menyatakan, jika impor hanya dari AS tidak akan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri karena produksi di negara tersebut juga terbatas.(*)

Copyright © 2008 ANTARA

Friday, January 18, 2008

Kedelai Plus LIPI Dapat Tingkatkan Produktivitas

Cibinong, Bogor (ANTARA News) - Pusat Penelitian (Puslit) Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) selama ini mengembangkan kedelai plus, benih yang telah diproses sehingga mampu melipatgandakan produktivitas dua kali dari rata-rata nasional 1,2 ton per hektare (ha) menjadi 2,6 ton hingga 3,6 ton per ha.

"Sudah terbukti ditanam di tempat yang sulit untuk kedelai seperti di Musirawas, Sumsel dan beberapa tempat lain di Jawa sejak 2004," kata Peneliti Puslit Bioteknologi LIPI, Harmastini Sukiman M.Agr, di Cibinong Science Center, Bogor, Kamis.

Meningkatnya produktivitas, ujarnya, karena benih telah mengandung mikroba rhizobium yang diinjeksi ke dalamnya dengan teknologi vakumisasi sehingga ketika ditanam, kandungan nitrogen di dalam tanahnya meningkat 20 persen dan menjadi subur bagi kedelai.

Karakter bakteri rhizobium, ujarnya, bersimbiose dengan tanaman kacang-kacangan dan dapat membantu penyerapan Nitrogen dari udara serta mengubahnya menjadi unsur yang tersedia bagi tanaman.

Cara kerjanya, benih kedelai dari varietas apapun diinsersi oleh bakteri rhizobium BTCC-B64 hasil riset LIPI dengan media pertumbuhan YEM-broth lalu dicampurkan oleh alat pencampur dengan teknologi vakum sehingga dihasilkan kedelai Plus.

Keuntungan Kedelai Plus, urainya, selain produksi biji yang meningkat, juga mudah ditanam oleh petani, dan kebutuhan pupuk berkurang hingga 60 persen.

Sementara itu, Deputi bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI, Prof Dr Endang Sukara, mengatakan bahwa sebenarnya pada masa Presiden Megawati, kedelai plus ini telah diperkenalkan, namun entah mengapa hasil riset ini hingga kini tidak dipakai secara massal.

"Ini masalah kebijakan, masalah tata niaga yang lebih mengutamakan impor dalam bentuk kedelai jadi, daripada mengembangkan pertanian kedelai," katanya.

Padahal, ia mengingatkan, kedelai yang diimpor itu adalah kedelai hasil rekayasa genetik sementara kedelai plus dalam negeri ini asli hayati. (*)

antara

Wednesday, January 16, 2008

US approves animal clones as food

By Richard Black
Environment correspondent, BBC News website

The US government has given the green light to the production and marketing of foods derived from cloned animals.

After six years of study, the Food and Drug Administration (FDA) ruled that meat and milk from cloned pigs, cattle and goats and their offspring is safe.

Lack of data meant the agency could not reach a decision on sheep products.

The FDA does not expect to see a lot of products from cloned animals being sold now, because of cost. It expects clones would first be used for breeding.

The agency released almost identical draft conclusions in December 2006. Since then, new scientific information has strengthened its central view.

Just because something was created in a lab, doesn't mean we should have to eat it
Senator Barbara Mikulski
"After reviewing additional data and the public comments in the intervening year since the release of our draft documents on cloning, we conclude that meat and milk from cattle, swine, and goat clones are as safe as the food we eat every day," said Stephen Sundlof, director of the FDA's Center for Food Safety and Applied Nutrition.

The FDA will not require food derived from cloned animals to be labelled as such.

Low confidence

The agency was criticised by activist groups and by US politicians who were not convinced that enough scientific data was available to justify a decision.

"The FDA has acted recklessly, and I am profoundly disappointed in their rush to approve cloned foods," said Maryland Senator Barbara Mikulski, co-sponsor of a bill amendment passed by the US Senate which asked the FDA not to rule until further research was available.

"Just because something was created in a lab, doesn't mean we should have to eat it."

Her criticisms were echoed by Andrew Kimbrell of the Center for Food Safety, a prominent US pressure group.

"The FDA's bull-headed action disregards the will of the public and the Senate and opens a literal Pandora's Box," he said.

Glass of milk. Image: PA
Observers do not anticipate a rush to market cloned milk and meat
"The FDA based their decision on an incomplete and flawed review that relies on studies supplied by cloning companies that want to force cloning technology on American consumers."

A survey in 2005 by the Pew Charitable Trusts found that two-thirds of US consumers were "uncomfortable" with animal cloning; nearly half believed food from clones would be unsafe to eat.

Some US food companies have indicated they do not plan to stock products derived from cloned animals.

But Smithfields, which claims to be the biggest producer of pigs and pork products in the country, left the door open to a change of tack, saying it would "continue to monitor further scientific research on this technology" and was committed to improving its products "through careful selective breeding and genetic research".

Breeders themselves expressed their approval.

"The biotechnology industry applauds the FDA for its comprehensive scientific review of this new assisted reproductive technology," said Jim Greenwood, president and CEO of the Biotechnology Industry Organization (Bio), which represents companies and institutions in the biotech field.

"Cloning... can effectively help livestock producers deliver what consumers want: high-quality, safe, abundant and nutritious foods in a consistent manner."

Delayed action

US authorities do not expect to see a wave of products derived from cloned animals on the shelves immediately.

Creating a clone is far more expensive than breeding animals conventionally. The US Department of Agriculture (USDA) believes it is more likely that companies will produce clones with "desirable" traits, breed them, and bring products from the offspring into the food chain.

The USDA is asking companies not to market products immediately, but to continue observing the moratorium they agreed to in 2001 when the FDA began its deliberations.

"USDA encourages the cloning industry continue its voluntary moratorium for a sufficient period of time to prepare so that a smooth and seamless transition into the marketplace can occur," it said in a statement.

The US developments will be watched closely in Europe, where evaulation of cloned animals is at an earlier stage.

Last week the European Food Safety Authority (Efsa) initiated a public consultation on its draft guidance.

The draft concluded, among other things, that:

  • foods from cloned pigs and cattle are essentially identical to those from conventionally bred animals
  • animal cloning is unlikely to have environmental impacts
  • there are health and welfare issues, but these are likely to diminish as technology progresses

The EU has indicated that if products from cloned animals were approved, they would have to be labelled.

This contrasts directly with the US position, opening up the possibility of trade disputes similar to the lengthy and costly row between the EU and US over genetically modified foods.

Richard.Black-INTERNET@bbc.co.uk

From here

Recent Comments

My Widget

Visitor Map
Create your own visitor map!
My Blog Juice

Bio News

↑ Grab this Headline Animator

Adv

Label